Sabtu, 07 Februari 2009

In The Raining Day... Part#2

Bu Mayumi sedang menjelaskan tentang kehidupan zaman Edo saat aku sedang memikirkan siapa yang tega berbuat begitu terhadap kebunku. Otakku sama sekali tidak bisa konsentrasi pada pelajaran saat itu. Aku jadi teringat lagi saat Yuu datang ke rumahku tadi malam.

"Kamu tahu siapa yang melakukannya?"Tanyaku bergetar. "Si... siapa?"

Yuu menggeleng."Entahlah,"katanya datar, meski bisa terihat di wajahnya kalau dia sedang bersedih.

"La...lalu bagaimana ini? Bi...bisa-bisa kita gagal ikut lomba...,"desisku. Aku menyerahkan ember kumal itu pada Yuu.

"Aku rasa, pelakunya itu anak di sekolah lain. Tapi tidak mungkin karena saat itu penjaga sekolah sedang menjaga sekolah. Pak Kepala Sekolah kan sudah menyiapkan penjaga khusus sejak kita bilang kita ikut lomba itu."Tampaknya Yuu masih tidak percaya dengan hal itu. Kelihatannya dia sangat terpukul.

"Ah, kamu mau masuk ke rumah? Di sini dingin. Kamu bisa masuk angin nanti,"ajakku sambil membukakan pintu rumah padanya. Dia tersenyum kecut. Aku hanya terpana.

"Tidak, terimakasih."

"Eee, hal ini sudah kau beritahukan kepada anak-anak yang lain?"Tanyaku. Dia menggeleng.

"Belum, sehabis ini akan kuberitahu."

"Kenapa tidak lewat telepon saja?"

"Aku kan tidak tahu nomor telepon mereka. Kalau aku telepon ke nomor ponsel mereka, nanti dikira yang tidak-tidak."

"Aku mengerti. Tapi setidaknya kamu masuk dulu ke rumah. Kan dingin,"ajakku.

"Tidak, aku akan pergi menemui yang lain." Dan dia pun berlari di tengah hujan deras. Sepertinya dia tidak peduli hujan sedang deras atau tidak. Dan hei! Dia tidak memakai payung!


"Kishii! Apa yang dilakukan orang-orang edo pada zaman dulu?"Pikiranku buyar dan saat tersadar, Bu Mayumi sudah ada di depan mukaku.

"Tunduk pada mikado?"Jawabku asal."Atau tunduk pada kaisar?"

"Lain kali, perhatikan pelajaran dengan benar yah. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, dan ini akan masuk dalam soal ujian loh." Bu Mayumi berlalu sambil menjelaskan tentang kehidupan zaman edo lagi.

Aku melempar pandanganku ke arah Yuu. Dia seperti tidak ada semangat.

***

"Segawa! Ayo kita lanjutkan mengerjakan kebunnya!" Ajakku ceria. Aku mencoba bersikap seperti biasa. Tapi dia memandangku tidak bersemangat.

"Tidak, semua sudah berakhir. Hentikan saja,"jawabnya lesu.

"Apaan sih, mana semangatmu? Katanya mau beli motor Harley?"Tanyaku tida puas."Anak-anak yang lain juga setuju untuk bekerja kembali. Jadi, ayo!"

Aku menyeret Yuu sampai ke halaman tempat kebun kami dibuat. Di sana sudah ada Asou, Chika dan yang lain.

"Tuh, kan! Semuanya sudah pada menunggu, mereka bahkan hari ini sangat bersemangat!"Kataku sambil terus memegang lengan Yuu.

"Hoi, Yuu! Kenapa murung begitu, ayo ke sini!" Teriak Asou sambil menanam bunga.

"Mereka..."Yuu terdiam. Aku tersenyum padanya.

"Tuh, benarkan. Mereka semua bersemangat. Masa kau tidak?"Ujarku.

Yuu tersenyum datar. "Baiklah, aku juga akan bekerja."

***

Aku berlari kecil sambil membawa ember ke kebun kami. Aku bernyanyi gembira. Aku tadi membayangkan wajah Yuu yang kembali bersemangat saat bekerja di kebun tadi.

"Hei, mereka nggak kapok juga ya?"Sebuah suara kecil terdengar dari arah kelas kosong di depanku. Aku mengintip dengan hati-hati ke dalamnya. Tampak sekitar 3 orang laki-laki berandalan duduk di meja seperti sedang musyawarah.

"Iya,"kata seorang laki-laki berambut jabrik. "Aku benci sekali dengan Yuu Segawa itu. Entah kenapa dia berkhianat dengan kita dan malah masuk klub membosankan itu."

"Hehehehehe, iya. Lucu sekali, ya. Aku sampai tak percaya kalo dia dulu jadi pemimpin kita dan kita tunduk padanya,"ujar laki-laki yang memakai jaket bertuliskan PUNK.

"Sepertinya dia tertarik dengan cewek bernama Maiko Kishii itu, ya?"Laki-laki berambut panjang sebahu tertawa kecil, menyeramkan bagiku.

"Benar juga, sejak anak bernama Kishii itu bergabung di klub itu, Yuu jadi ikut bergabung ya..."Anak berambut jabrik mengisap rokoknya."Kayaknya dia menyukai cewek itu deh."

"HUH! Dasar bodoh! Menggelikan sekali. Cowok seperti itu jadi menyukai cewek biasa seperti itu,"ujar cowok gondrong, kembali tergelak.

"Makanya kita hancurkan kebun itu kan?"

BRAK!

Ember yang kupegang terjatuh dan mengeluarkan suara yang keras. Ketiga anak laki-laki itu terkejut dan berlari keluar. Dan mereka melihatku!

"Aa... maaf!" Ujarku ketakutan. Tubuhku gemetaran saking takutnya. Ingin sekali aku kabur, tapi kakiku lemas sekali rasanya saking takutnya.

"Hei, dia ini si Kishii itu kan?"Tanya cowok berjaket PUNK kepada dua temannya.

"Iya, dia orangnya. Bagaimana kalau kiita kasih pelajaran?"Si cowok berambut Jabrik itu memegang tanganku.

"Setuju."Dua cowok lainnya mendekatiku. Aku mencoba menutup mata. Aku takut sekali.

"To... Tolong aku!"Teriakku.

"Berhenti kalian!" Aku membuka mataku. Dan ada Yuu di depan.

"Yuu Segawa?!"Teriak cowok berambut jabrik. Ketiga cowok itu mendekat ke arah Yuu.

"Kishii, lari!" Teriak Yuu.

"Tidak bisa..,"gumamku. Maaf, Yuu. Kakiku terlalu lemas untuk berlari.

"Terima ini Segawa!" Ketiga laki-laki itu berkelahi dengan Yuu. Selama beberapa saat aku hanya terbengong melihat perkelahian anat cowok itu. Tapi, aku mengkhawatirkan Yuu. Yuu!

"Dasar bodoh kalian semua!"

Hei, semua cowok itu tumbang!

"Ayo, Kishii. Kita pergi. Mereka tidak akan merusak kebun kita lagi."Yuu membantuku berdiri.

"Se... Segawa. Tahu akan hal itu?"Tanyaku. Dia mengangguk.

"Ya. Aku tahu karena mereka dendam padaku."Yuu tersenyum ramah."Ayo, kita pulang. Kebun kita sudah selesai kita perbaiki. Dan sekarang sudah rapi."

"Syukurlah kalau begitu."

"Mereka tidak akan melakukannya lagi. Aku sudah memperingatkan mereka."

***

Hasilnya sudah keluar! Kami memang tidak bisa meraih ranking pertama, tapi kami bersyukur kami memperoleh ranking kedua. Hadiahnya empat puluh juta Yen. Tapi itu semua sudah cukup.

Di sekolah diadakan pemberian penghargaan kepada kami semua, anggota klub berkebun, sebelum liburan musim panas di mulai. Kami sangat senang sampai-sampai rasanya ingin berteriak.

Sepulang dari sekolah aku berniat pergi ke kebun untuk melihat kembali hasil karya kami, klub berkebun. Ternyata di sana ada yang berpikiran sama denganku. Ya, Yuu ada di sana...

"Kishii, kamu ke sini juga ya?"Tanyanya.

"Begitulah. Rasanya sayang sekali kalau aku melewatkannya."Aku melihat bunga-bunga itu dengan asyik."Bunga-bunganya cantik sekali. Aku sampai-sampai terpesona melihatnya."

"Iya. Memberi semangat. Sama seperti kamu."

Aku terkejut. Yuu mengatakan aku memberi semangat?

Aku menoleh ke arahnya."Aku? Memberi semangat?"Tanyaku.

"Iya. Yuk, pulang." Ia membalikkan badan."Kita pulang bareng yuk?"Ajaknya.

"Ah, baiklah..."Aku bangkit dan berlari kecil menyusulnya.

"Hei, Kishii..."

"Iya?"

"Kamu sudah punya pacar?"

Kok, dia bertanya begitu? Jantungku jadi berdebar-debar tidak keruan.

"Belum. Tidak ada yang mau denganku, sih. Apa karena aku ini jelek, ya?"Aku tertawa kecil, seakan menertawakan diri sendiri.

"Tidak kok. Menurutku kamu itu manis."

"Ha?"Gumamku tak percaya.

"Kamu salah kalau kamu bilang tidak ada yang mau denganmu. Aku mau jadi pacarmu,"Ujar Yuu. Kulihat wajahnya terlihat serius." Aku serius, kamu mau tidak jadi pacarku?"

"Kenapa? Sejak kapan kamu menyukaiku?"Tanyaku dengan wajah memerah.

"Sejak setahun yang lalu," Katanya. "Menurutku kamu itu memberi semangat pada yang lain."

"Aa..."

"Jadi..." Yuu mendekatiku."Kamu mau, jadi pacarku?"

Bagaimana ini?

"A... aku mau..."

Kami terdiam. Saat itulah angin musim semi berhembus. Kelopak-kelopak Sakura mengikuti hembusan angin itu. Aku pun merasakan ada yang hangat di bibirku. Itu Yuu!






END




Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

In The Raining Day...

Kulangkahkan langkahku ke arah klub berkebun. Hujan masih turun dengan derasnya, Tapi masih saja kaki ini kupaksakan maju.

Beberapa saat kemudian, sampailah aku ke sebuah gedung kecil. Di depannya terdapat sepetak tanah yang sudah agak becek dan berantakan. Ini pasti karena hujan turun sederas ini. Aku lalu masuk ke dalam gedung kecil yang sudah agak tua. Teman-teman sekelasku bilang, gedung ini sebentar lagi akan runtuh. Kuakui, gedung ini memang sudah tua. Bila kau memasuki gedung ini, akan tercium bau kayu tua. Tidak bau, tapi bila kau mempunyai hidung yang sensitif, itu sudah mampu membuatmu bersin.

Ketika aku masuk, tampak seorang laki-laki yang sebaya denganku duduk dengan santai di meja tempat berkumpul anggota klub berkebun. Sepertinya ia sedang asyik membaca buku yang kupikir itu cukup mencurigakan.

"Yuu Segawa! Sedang apa kamu?!" Tanyaku kasar sambil merebut buku itu. Laki-laki bernama Yuu itu menoleh ke arahku tanpa ada rasa terkejut pun di wajahnya. Malah sepertinya dia santai-santai saja.

"Buku apa? Lucu kamu bertanya begitu, lho, Kishii...,"Jawabnya santai, seakan mengejek.

"Aku curiga kamu membaca majalah porno!"

"Gimana kalau aku membaca yang seperti itu? Apa kamu akan menuntutku?"

"Tidak, hanya saja, anak seumuran kita tidak bisa membaca yang seperti itu."

"Hah, sudah kuduga kamu akan berbicara seperti itu Maiko Kishii. Sini, kembalikan bukuku. Itu bukan buku porno, itu buku tentang motor. Motor Harley!"Direbutnya buku itu. Sedetik kemudian ia menunjukkan isi buku itu. Dan dia memang benar, buku itu bukan buku porno.

Untuk berapa lama kami terdiam. Dia asyik membaca buku, sedangkan aku memandang ke luar jendela. Menunggu hujan berhenti. Tapi, itu sangat menjemukan, jadi aku duduk dan mengeluarkan buku pr ku dan membuat pr. Hal itu berlangsung lama sampai akhirnya aku merasa capek sendiri dan memulai pembicaraan.

"Hei Segawa. Mana yang lain?"

"Mana kutahu. Paling karena hujan, tidak ada yang masuk hari ini. Mereka bosan karena kita tidak melakukan apa-apa," ujarnya santai sambil tetap membaca buku Harley-nya.

"Buku itu menarik, ya?"Tanyaku asal.

"Oh, sangat. Tapi sepertinya tidak menarik untukmu Kishii. Kamu kan cewek."

"Ya, memang sih. Kamu sedang tertarik, ya baca begituan?"

"Ya, begitulah." Ia lalu melanjutkan."Aku kemarin melihat ulasannya di TV dan kupikir itu keren sekali. Saat aku mampir ke perpustakaan aku melihat bukunya, jadi aku pinjam."

Aku mendekati Yuu dan kulihat isi buku itu. Yuu benar, motornya keren sekali. Mataku tak berkedip melihatnya. Ada yang merah, biru, dan hitam mengkilap.

"Wah, keren!"Kataku.

"Benar kan?"

"Iya."

"Tapi harganya mahal. Aku tidak mungkin bisa membeli yang seperti itu."

"Iya juga. Ini bisa mahal sekali." Aku menjauh darinya. Kulihat hujan sudah berhenti. Kutarik lengan bajunya.

"Ayo, kita bekerja sekarang!"Ajakku.

***

"Maiko Kishii. Bisa ibu bicara denganmu sebentar?"

Kulihat Bu Haruka di ambang pintu kelasku. Aku penasaran sekali apa yang akan dibicarakannya, jadi aku pun mendekatinya.

"Kishii, Ibu ada berita bagus untukmu."Bu Haruka tersenyum. Cantik.

"Berita apa?"

"Pak Kepala Sekolah benar-benar terkesan dengan karya klub berkebun bulan lalu. Itu, saat kalian membuat tanah kosong yang ada di dekat halaman sekolah menjadi taman bunga. Ingat?"

"Iya. Tentu saya ingat, Bu. Lalu, ada apa, ya Bu?"

"Pak Kepala Sekolah mendaftarkan kalian ikut ke kontes menghias kebun se-Jepang khusus anak SMA. Hadiahnya lumayan! Lima puluh Juta Yen!"

"Apa? Hadiahnya sebesar itu?"

"Iya. Jadi, kalau kalian menang, kan lumayan. Nah, kalau kamu tertarik bicarakan ini dengan anggota klub berkebun yang lain. Sayang sekali kalau kalian melewatkannya. Ibu permisi dulu."

Saat Bu Haruka pergi, jantungku masih tidak tenang. Lima puluh juta Yen? Semua orang tahu, itu bukan jumlah yang sedikit!

Lima puluh juta Yen...

Pikiranku melayang pada motor Harley yang ada di buku Harley.

***

"Lima puluh juta...?"

Yuu terdiam sementara semua anggota yang lain terdiam.

"Ulangi lagi, lima puluh... juta?"Tanya Asou tak percaya. Aku mengangguk.

"Wah, dengan uang sebesar itu, kita bisa merenovasi gedung ini dong?"Ujar Chika ceria.

"Bisa beli motor Harley!" Teriak Yuu. Semua menoleh ke arah Yuu, merasa aneh.

"Hey, Yuu! Kamu ini gimana? Apa hubungannya dengan motor Harley?"Tanya Asou aneh.

"Maksudku, kita bisa beli motor Harley untuk keperluan klub,"katanya.

"Keperluan klub?"Tanya Mie.

"Iya, jadi kita bisa beli motor itu untuk mengangkut barang-barang keperluan klub,"Jelas Yuu.

"Benar juga." Asou mengangguk."Dengan uang sebanyak itu, kita bisa dapat semuanya. Motor Harley-kan besar. Kita bisa beli yang bekas. Harganya mungkin sekitar 10 juta. Pak Kepala Sekolah mungkin setuju."

"Oke, jadi kita harus menang, ya!"Kataku.

"IYAAAAA!!!" Teriak semua anak.

***

Hari ini lelah sekali. Sudah 1 bulan aku pulang dalam keadaan capek berat seperti ini. Mana tanganku lecet-lecet karena berkebun di sekolah tadi. Berat sekali rasanya. Aku merebahkan diri di atas tempat tidur.

Tadi, di sekolah, Yuu kelihatan bersemangat sekali. Mungkin karena semangatnya untuk mendapatkan hadiah uang itu sedang meluap-luap, ya?

Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu ganti baju. Dari tadi pikiranku melayang tentag Yuu dan impiannya mendapatkan motor Harley. Ah, memang asyik kalau punya impian.

Di atas meja belajarku, terpampang sebuah sketsa. Itu adalah sketsa hiasan pada kebun bunga yang akan kami tanami. Waktu yang di berikan adalah 3 bulan. Berarti tinggal 2 bulan lagi. Foto kebun akan dikirim lewat pos dan kita lihat hasilnya.

Di luar, hujan turun dengan derasnya.
Aku tersenyum. Membayangkan wajah Yuu bila kami menang kontes itu. Seketika aku tersadar. Apa yang aku lakukan?

Kok aku jadi memikirkan Yuu? Aku terdiam dengan wajah memerah. Terus seperti itu sampai tiba-tiba mama memanggilku.

"Maiko... di luar ada temanmu. Ah, namanya Segawa!" Panggil mama.

Segawa? Berarti Yuu? Ah, kenapa aku jadi deg-degan begini, sih?

Aku kemudian pergi ke pintu depan. Ternyata, Yuu tidak ada di ruang tamu, jadi kucari ke teras, dan dia ada di sana! Tubuhnya basah kuyup.

"Ada apa?" Tanyaku biasa, padahal dalam hati, hatiku berdebar-debar kencang antah mengapa.

"Kishii... sepertinya...,"wajah Yuu kelihatan lesu. Sepertinya dia mendapat masalah.

"Ada apa?"

"Kebun kita... kebun kita... dihancurkan orang." Ia memberikan sebuah ember dari tangan yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ember itu kotor. Kumal.

"HAH?!" Aku berteriak histeris. Kuambil ember itu dari tangannya. "Siapa yang tega begini?"

Kulihat wajah Yuu tak kalah sedihnya dari aku. Inginku hibur wajah itu. Tapi...



To Be Continue...




Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

Minggu, 25 Januari 2009

Welcome to Hompierz Story Album

Allow, all!!! Met datang di Hompierz Story Album ini, yah!!! Bagi yang doyan cerita2, blog ini bisa jadi surga bagi para pembaca sekalian ^_^V.

Hompierz Story Album adalah kumpulan cerpen karya anggota Hompierz, yaitu member2 Forum Homepy (yg kini forumnya telah ditutup TT__TT). Adapun penulisnya adalah:
1. Eri Fin DinaShia
2. Fujiwara Minmy
3. BJ Haru

Para pembaca sekalian bisa menikmati berbagai macam tema cerpen mulai dari yang romantis, innocent, humor atau bahkan action.

Selamat menikmati ^_^.

Untuk para penulis:
1. Cerpen yang dibagi berseri (part) paling tidak maksimal 2-3 part.
2. Bila ada penulis yang membagi cerita dengan sistem part, diharap penulis lain tidak memposting sampai cerita selesai (misalnya penulis A menulis cerpen dalam 2 part. Maka, penulis lainnya tidak boleh posting sampai cerpen penulis A beres), karena akan membingungkan pembaca.
3. Setiap cerpen harus diberi label/ tag untuk memberitau kategori masing2. Kalo ada 2 kategori, ya hrs ditulis 2. Adapun label standar yang disediakan:
> Romantic
> Humor
> Action
> Friendship
> Family

Yang belum mengerti, silahkan kirim e-mail ato testi ke FS owner blog ini *udah pada tau 'kan* =3